Archive for the ‘Politik & Ekonomi’ Category

Duta RI

Kalau kita berpartisipasi diluar negeri, seperti olimpiade misalnya, kejuaraan dunia tinju, bulutangkis, dan lain sebagainya, yang saya tau yang dikirim atau diutus kesana adalah para  juara di dalam negeri, muda dan segar, sehingga harapannya dapat meraih sukses. Nah… yang ini lain dari pada yang lain, dan memang sudah berlangsung sangat lama, kalau ngga salah sejak orde orde yang dahulu sampai orde sekarang ini. Yang saya mau katakan adalah tentang utusan Negara Indonesia menjadi DUTA BESAR di negara negara sahabat. Mari kita lihat, yang diangkat adalah para pensiunan yang seharusnya cukuplah untuk memomong cucu, bersenang senang dengan keluarga dan sanak saudara, karena selama ini tertinggalkan demi karir. Memang sih mereka tadinya adalah orang orang yang berprestasi, namun bidangnya lain dan sudah maksimal, misalnya yang menteri sudah tidak menteri lagi, yang jaksa sudah tidak jaksa lagi dan yang lain lainnya, masak seorang ahli kimia ditugaskan menjadi pelatih sepak bola misalnya. Inilah yang membuat kita gusar di negara ini, jabatan jabatan itu dibuat sebagai balas jasa atau apapun namanya, bukankah kepentingan negara yang seharusnya didahulukan? Padahal seorang duta besar itu adalah suatu jabatan penting dimana dia merupakan representasi dari negara asalnya di negara dimana dia ditugaskan. Apa yang akan mereka capai nanti?, tentunya ini menjadi pertanyaan. Bukankah orang orang yang sudah meniti karir sebagai diplomat seharusnya lebih pantas untuk itu? Pantaslah hasil diplomasi kita terhadap negara sahabat selama ini tidak pernah maksimal..

Ach.. negeriku, sampai kapan begini……………

Dikotomi

Kebanyakan dari kita sangat suka berpolemik, salah satu polemik yang berkembang sangat subur di masyarakat  dan saya sendiri sudah terjerembab didalamnya adalah masalah dikotomi.

Pada awal reformasi, hembusan dikotomi militer dan sipil sangat kencang, dan sangat menguat di masyarakat, walaupun sedikit demi sedikit mulai meredup dengan terpilihnya presiden kita yang sekarang ini.

Sekarang muncul lagi dikotomi “Tua versus Muda” untuk mengisi kepemimpinan atau calon presiden dalam pemilu yang akan datang ini, dimana yang Muda menuduh yang tua sudah membosankan, kreativitas rendah, dan tidak akan ada perobahan baru yang akan membawa bangsa ini kearah yang lebih maju.

Sementara yang Tua masih kuat mempertahankan kemapanan mereka yang cenderung menganggap yang muda belum cukup punya pengalaman dan kemampuan untuk memimpin Negara ini, yang masih diselimuti berbagai persoalan yang sangat pelik.

Inilah kondisi riel yang kita hadapi sekarang, namun sebenarnya munculnya dikotomi ini bersumber dari rasa ketidak puasan masyarakat terhadap pemimpinnya yang sampai sekarang belum berhasil memecahkan persoalan bangsa yang kian rumit. Kemiskinan makin bertambah, korupsi meraja lela, hukum masih milik segelintir orang yang mampu, dan banyak lagi persoalan. Belum lagi menghadapi alam yang lagi murka terhadap negeri ini, dimana bencana datang terus menerus seolah olah tidak akan berhenti.

Saya hanya dapat berdoa, semoga negeri ini memperoleh kekuatan menghadapi semua persoalan yang ada.

Pph final atas sewa tanah

Perpajakan memang mengasyikkan untuk disimak tapi sekaligus menyebalkan dimana kadang petugas pemeriksa perpajakan dengan gampangnya melakukan koreksi atas SPt kita tanpa penjelasan yang detail, tau tau SKP sudah dikeluarkan (paling tidak pada kasus yang saya peroleh).  

Sekedar review coba kita lihat pada PP no.29 tahun 1996 yang salah satu pasalnya mengatakan bahwa  “Pajak Penghasilan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1, adalah sebesar 6% (enam persen) dari jumlah bruto nilai persewaan tanah dan/atau bangunan dan bersifat final”, tentu saja wajib pajak akan mengacu ke peraturan ini, sebab sebagai rakyat atau wajib pajak tidak ada pilhan harus mengikuti peraturan yang dibuat oleh pemerintahnya. 

Oleh petugas pemeriksa pajak, PP ini tidak dihiraukan sebab menurut mereka seharusnya wajib pajak harus merujuk kepada UU Nomor 17 tahun 2000 pasal 4 dan pasal 23  yang salah satu pasalnya bermakna bahwa pajak penghasilan atas sewa tanah tidak bersifat final melainkan harus dilaporkan sebagai objek PPh Badan, sehingga menimbulkan kewajiban pajak terutang bagi wajip pajak yang sebelumnya telah melaporkannya sebagai pph final. Selanjutnya simpati kita semakin berkurang ketika petugas pemeriksa pajak tidak pernah berusaha untuk meyakinkan wajib pajak bahwa dia telah melakukan kesalahan, tapi hanya menyodorkan berita acara pemeriksaan untuk disetujui atau tidak.  

Nah… yang menjadi pertanyaan, kenapa peraturan pajak ini tumpang tindih sehingga membingungkan wajib pajak, atau apakah PP ini sudah dibatalkan atau direvisi??? 

Ini yang saya tidak tau…..dan masih mencari tau.

Wapres pun bersilaturahmi…..

Terobosan politik, begitu katanya …………….atas “Road Show” Wapres terhadap para mantan presiden. Kunjungan silaturahmi Wapres ke beberapa mantan Presiden RI tersebut merupakan yang pertama kalinya dilakukan oleh pejabat tinggi negara yang sedang berkuasa dan menurut Wapres (dikutip dari web-nya antara), “kedatangannya ke kediaman Ibu Megawati selain bersilaturahmi, dalam rangka Halal bi Halal 1428 H juga memberikan pendidikan ke bangsa Indonesia agar menghilangkan rasa saling dendam”.

Ternyata para pemimpin dan mantan pemimpin itu saling dendam rupanya selama ini, sehingga sesama rakyat sering terjadi permusuhan (guru kencing berdiri, murid kencing berlari). Nah, pertanyaan berikutnya “mengapa bukan presiden yang berkuasa bersilaturami dengan manatan presiden”, berarti mereka masih saling dendam.

Kita tunggu pada beberapa hari ini, pasti berbagai komentar yang seru akan muncul di media-media (biasanya begitu).

Selamat menunggu…………

Calon presiden ala duniaMaya

Dakam rangka ikut menyemarakkan calon presiden yang sudah mulai menghangat saat ini, rasanya insan blog perlu berpartisipasi guna mempromosikan  “ALTERNATIVE CALON PRESIDEN”, sebab nama nama calon presiden yang sudah ada saat ini kurang mengreget.

Nah…… saya ingin mengajak anda mengusulkan nama nama tokoh yang anda anggap dapat membawa bangsa ini menjadi adil, makmur, tentram, taat hukum, tidak korupsi dan seterusnya, pokoknya orang yang mampu membawa kenyamanan pada bangsa ini.

Persyaratan calon presiden

  • tokoh yang masih fresh
  • setiap orang boleh mengusulkan tokoh yang dianggap mempunyai potensi dan tidak terbatas jumlahnya
  • harus membuat sedikit profil tokoh yang diusulkan (kalau nga’ bisa banyak)

Bila sudah sampai pada jumlah optimal, kita akan mengadakan pooling hingga ditemukan ATERNATIVE CALON PRESIDEN ala duniaMaya.

Pada kesempatan pertama ini saya mengusulkan tokoh dibawah ini, dengan catatan apabila saya memandang perlu mengusulkan lagi, tidak tertutup kemungkinan.

1. Anies Baswedan Ph’D

Lahir:  tanggal 7 Mei 1969
Pendidikan:
Sarjana Ekonomi dari Fakultas Ekonomi niversitas Gadjah Mada
Gelar master dari School of Public Policy, Universitas Maryland
Pekerjaan:
Rektor Iniversitas Paramadina
Direktur riset pada The Indonesia Institute
Peneliti utama di Lembaga Survei Indonesia
(Sumber dikutip dari  “http://id.wikipedia.org/wiki/Anies_Baswedan“)

2.   Agustin Teras Narang, SH

Lahir: Banjarmasin, 12 Oktober 1955
Pendidikan:
Sarjana Fakultas Hukum UKI Jakarta (1973-1979)
Pekerjaan:
Gubernur Kalimantan Tengah
(Sumber dikutip dari “http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/a/agustin-teras-narang

Anda mempunyai keinginan mengusulkan calon?,

Monggo……………