Persahabatan antara Horas dan Lambok sudah terbilang lama, dan pertemanan mereka sebenarnya boleh dikatakan sangat unik karena perbedaan kharakter yang dimiliki oleh keduanya sesungguhnya sangat mencolok.

Si Horas adalah orang yang dikenal dengan pembawaan yang lugas, praktis dan cenderung temperamental, sementara si Lambok seperti namanya selalu Lambok (lembut), pragmatis dan boleh dikatakan “parbahul bahul na bolon”. Satu hal yang mungkin membuat mereka dapat bersahabat baik adalah karena mereka sama-sama baik hati.

Suatu ketika… kedua sahabat itu ingin berpergian bersama ke danau untuk berenang, sebab sudah agak lama tidak melakukannya dikarenakan kesibukan sehari hari yang selalu menyita waktu mereka berdua.

Pada waktunya, dengan mengendarai sepeda masing masing, merekapun berangkat dengan suasana yang riang sebab mereka sungguh ingin menikmati suasana danau yang sejuk dan pemandangan yang menurut bayangan mereka adalah sangat mengasyikkan.

Diperjalanan……, braaaaak…tanpa sengaja sesama mereka saling menyenggol sebab memang jalan menuju danau tersebut sangatlah sempit, yang berakibat keduanya terjatuh secara bersamaan. Dasar si Horas sibalga “pusu-pusu” (temperamental) itu, tanpa basa basi langsung bereaksi sebab rasa sakit yang menimpanya telah meghilangkan rasa persahabatan yang dia miliki, dan……“puccikritnya kau ini….” makinya dan serta merta memberi bogem kepada temannya itu.

Sakit dan pedih rasanya, namun si Lambok hanya terdiam sambil mengusap mukanya yang sedikit berdarah. Sudahlah… “mari kita teruskan perjalanan ini, agar segera sampai di danau” ajaknya sembari memperbaiki posisi sepedanya yang terjatuh itu. Sebelumnya dia mengambil ranting patah yang kecil dan menuliskan sesuatu di TANAH ….  “HARI INI  SAHABAT SAYA MARAH DAN MEMUKULKU HINGGA AKU KESAKITAN”.

Kesal si Horas masih tersisa… namun dia menurut aja ajakan temannya itu, sebab hasratnya yang besar mengalahkan segalanya agar sampai di danau sesegera mungkin. Lalu merekapun melanjutkan perjalanan.

Akhirnya kedua sahabat itu sampailah di tempat yang di idamkan sembari melayangkan pandangan hingga ke ujung danau tersebut. wah….. sungguh indah danau ini kata si Lambok dengan decak kagum. Demikian juga dengan si Horas… hanya saja dia kecewa dengan kondisi danau yang terpampang luas dihadapannya; ngedumel…. ya hanya itu yang dapat dilakukannya sebagai expressi dari rasa kejengkelannya menyaksikan danau yang sudah jauh berubah sekarang…. kini kondisi danau itu tidak lagi seindah danau yang mereka saksikan sebelumnya. Dalam hati… dia mendambakan suatu methode yang sesuai serta sifatnya mngedukasi masyarakat agar turut mengambil bagian dalam menjaga kelestarian danau.

Merekapun bersiap siap untuk berenang, dan byurrrrr… keduanya langsung menceburkan diri kedalam danau dengan kenikmatan yang luar bisa. Saking senangnya, dengan tidak pikir pajang si Lambok langsung berenang ketengah danau tanpa di sadarinya…. sesungguhnya dia tidak terlalu pandai berenang…… houup..houup…, diapun megap megap dan sesekali berteriak. Si Horas yang tidak kalah serunya dengan keasyikannya berenang sontak kaget melihat sahabatnya berada dalam bahaya, dan dia buru buru menghapiri; dengan sekuat tenaga yang dimilikinya, dia berusaha meraih dan menarik sahabatnya itu ke pinggiran danau, …… akhirnya selamatlah si Lambok.

Sejenak keduanya menenangkan diri; lalu Horas yang masih dalam kekhawatiran memutuskan untuk menyudahi saja acara berenang, lalu mengajak Lambok untuk pulang. Dengan perasaan sedih dan kecewa diapun mengiyakannya.

Sambil bersiap siap untuk meninggalkan tempat itu, Lambok kembali membuat tulisan di BATU yang ada disekitarnya… “HARI INI SAHABATKU MENYELAMATKANKU, SEHINGGA AKU TERLEPAS DARI MARA BAHAYA”.

Kali ini si Horas memperhatikan apa yang dilakukan Lambok…lalu dia bertanya “loh… mengapa sekarang kau menuliskannya di BATU, padahal tadi kau menuliskannya di TANAH”. Mendengar pertanyaan sahabatnya itu, dia menjelaskan… “perbuatanmu yang tidak baik kepadaku kutuliskan pada tanah, agar ketika angin atau hujan datang akan menghapuskan tulisan itu, tapi tidak dengan yang di BATU ini… dia akan tetap disitu dan takkan pernah terhapuskan oleh apapun.

Akhirnya……. dua sahabat itu pulang dengan suka cita, dan persahabatan mereka berlangsung dengan saling pengertian yang dalam.

———
PERBUATAN BAIK AKAN DIKENANG OLEH SAHABAT ATAU SIAPUN UNTUK SELAMANYA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: