Boru Panggoaran

Alunan bait akhir lagu “boru panggoaran” mengumandang lembut , mengakhiri lagu indah nan mempesona itu menyihir setiap pendengarnya hanyut kedalam perasaan yang dalam. Namun tak dinyana… seketika dia jatuh terkulai lemah, entah kenapa dan oleh sebab apa, kurang jelas… yang pasti kejadian ini sungguh nyata ketika ayahanda pengantin wanita itu hendak menyampaikan ULOS HELA.

Saya hanya menduga, bahwa “feeling happy that excessive” dari Laeku inilah kemungkinan yang membuatnya kehilangan keseimbangan. Bisa dikatakan demikian sebab ketika bertemu dengannya sewaktu mereka datang ke rumah untuk memberitahukan dan menyampaikan Undangan atas penikahan BORU PANGGOARAN-nya itu (paboahon tu Tulangna), sangat nampak jelas semangatnya yang meluap dan rasa bahagia yang tak terhingga terpancar di wajah professor ini, sampai sampai seluruh persiapan dan rencana acara pesta itu ditangani sendiri olehnya demi kesempurnaan pesta itu; begitu menurutnya.
————

Papa, je pincement à l’aéroport, begitu Borukku yang tinggal di Paris dan telah bekerja beberapa tahun belakangan ini di salah satu organisasi Internasional mengakhiri percakapan telephone, yang maksudnya memberitahukan bahwa dia akan menjemput kami di Bandara sehubungan dengan permintaannya kepada kami orangtuanya agar datang berkunjung dan menjenguknya di sana.

Aku sebenarnya salah satu orang yang tidak begitu suka berpegian jauh melewati benua dan samudra, apalagi ke negeri orang perancis yang saya benci itu. Entah mengapa asal mendengar kata perancis, darahku selalu “gurgur”, mungkin ini diakibatkan hubungan dan komunikasi saya yang tidak pernah baik dan sudah berlangsung cukup lama dengan orang perancis di sekitarku.

Tapi karena undangan ini sangat berharga bagiku dan berasal dari Borukku yang merupakan BORU PANGGOARAN pula di keluarga; aku harus menanggalkan perasaan itu, sebab rasa bangga atas permintaan itu mengalahkan perasaan benci yang tertanam mendalam dalam hati. Keinginan ini sudah cukup lama dicita-citakannya bahkan dari semasa masih duduk di SMP, bahwa dia akan belajar sungguh-sungguh agar dapat berhasil memiliki ilmu yang luas, dan suatu waktu nanti ketika telah mencapai sesuatu kesuksesan, dia akan mengajak kedua orang tuanya untuk berwisata jauh ke negeri orang untuk mengetahui sisi kehidupan dan budaya di negeri negeri orang, dengan demikian harapan memiliki wawasan yang lebih luas dapat diperoleh. Hal itu pernah diutarakannya manakala kami berbincang bincang di suatu sore.

Tibalah saatnya akan berangkat, semua kebutuhan yang berkaitan dengan perjalanan jauh sudah dipersiapkan dengan baik, dan…..tiba-tiba istri yang duduk disebelahku “manggoit” (mencolek), ayo… sekarang giliran kita “mangulosi”.

Seketika ‘ku tersadar dari angan yang jauh melayang menerobos ruang dan waktu akan si BORU PANGGOARAN, yang juga “friend”ku bersama adeknya di FB ini. Kini sedang sibuk-sibuknya berjuang keras menggapai cita-citanya untuk memasuki perguruan tinggi, setelah dua tahun ini menyelesaikan pelajaran-pelajarannya di kelas akselerasi salah satu SMAN di Bekasi.

Sambil bersiap-siap hendak “Mangulosi”, elemen otak ini masih tetap bergolak memikirkan dan merasakan keistimewaan “Boru Panggoaran”, selalu saja terasa kutemukan kekhususan disana.
Apakah ini merupakan usaha defensive saya terhadap patrilineal dalam kehidupan orang Batak yang lebih mengedepankan “panggoaran” itu sebaiknya laki-laki?, atau semacam perasaan berbeda dengan yang dimiliki orang lain?, atau karena dorongan yang dimunculkan oleh “Lagu Boru Panggoaran” itu?, entahlah… sulit rasanya mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Satu hal yang dapat kucatat, perjalanan panjang dalam hidup ini telah memberikan berbagai aspek pemahaman dalam diri ini, sehingga Boru Panggoaran mempunyai makna lebih dari yang lainnya.

Diatas segalanya itu saya selalu berharap dan berdoa agar anak-anak, dapat bertumbuh dengan baik hingga dewasa dan berhasil meraih apa yang dicita-citakannya, dengan demikian dambaan yang ada dalam lagu ini dapat tergapai.

***

Ho do boruku, tampuk ni ate-ateki
Ho do boruku…,tampuk ni pusu-pusuki

Burju-burju ma ho, na marsikkolai
Asa dapot ho, na sinittani rohami

Molo matua sogot au, ho na manarihon ahu
Molo matinggang ahu inang, ho do na manogu-nogu ahu

Chorus:
Ai ho do boruku, Boru panggoarakki
Sai sahat ma da na di rohami

Ai ho do boruku, Boru panggoaraki
Sai sahat ma da na di rohami….

Comments on: "Boru Panggoaran" (1)

  1. horas boru panggoaran..
    :)))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: