Kuliah aja kok mahal…

Pa’… jangan lupa bayar buat “SIMAK UI” dari atm bni, nomor pesertaku 70xxxxxxx, tolong ya Pa’… nanti kalau terlambat nga dapet tempat, ok ok pa’!!! ……….dua minggu setelah itu .. Jangan lupa ya Pa’… harus bayar hari ini buat “UTUL UGM”, lewat ATM Mandiri ya Pa’… itu antara lain isi SMS dari anakku hari2 terakhir ini, dimana dia sedang berjuang untuk menyelesaikan semester akhir setelah dua tahun ini bekerja keras berpacu dengan waktu menyelesaikan studinya di salah satu SMAN. Dua tahun lalu, saya terkejut kejut juga di buatnya ketika kala itu dengan bersemangat habis dia ingin memasuki kelas akselerasi agar dapat dengan sebegera menyelesaikan studinya di SMAN dan sekaligus menghemat biaya, begitu katanya. Diam diam rupanya dia selalu memikirkan kemampuan orang tuanya yang memang pas-pas an itu, ***terharu aku dibuatnya***

***Anakkon hi do hamoraon di au*** (anak adalah kekayaan bagiku), salah satu ungkapan orang Batak yang selalu memotivasi orang tua untuk berbuat sesuatu dengan segala upaya apapun untuk mendukung dan memperjuangkan cita-cita anaknya demi masa depan yang lebih baik. Itulah alasan yang mendorong bahwa apapun permintaan anak dalam konteks seperti diatas memang harus dilaksanakan walau terasa sangat memberatkan, dan itu yang terjadi hari ini.

Ada hal-hal yang sulit dipahami dan terkadang membuat kecut menghadapi hal yang berkaitan dengan pendidikan sekarang ini, entah itu karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan tentang system pendidikan sekarang ini atau apapun, yang jelas orang awam akan mengalami kebingungan dan tingkat stress yang tinggi mengikuti proses pendaftaran menjadi mahasiswa sekarang. Berbagai jalur akses untuk study di universitas, ada “SIMAK Universitas Indonesia” , ada “UTUL versinya UGM”, ada “USM dari ITB” atau lainnya, anehnya pada setiap pendaftaran untuk mengikutinya harus membayar uang pendaftaran yang beragam jumlahnya. Dan yang paling membuat pusing tujuh keliling, untuk setiap pendaftaran harus mencantumkan sejumlah tertentu berapa kemampuan orangtua menyumbangkan partisipasi dalam program itu, dari puluhan juta dan bahkan sampai ratusan juta, dan konon ini merupakan kriteria penting untuk menentukan kelulusan dalam seleksi, artinya semakin besar jumlah yang kita camtumkan semakin besar kemungkinan lulus. ***Tragis*** Kesempatan lain yang ditawarkan ada lagi SENAMPTN atau entah apa lagi namanya, itu sesuadah kelulusan SMAN, namun sekali lagi harus merogoh kocek dulu.

Kilas balik ke belakang… dulu kalau masuk universitas, cukup ikut seleksi SIPENMARU/UMPTN, kalau lulus lanjut dengan kuliah dan seingat saya relatif murah dalam artian masih terjangkau masyarakat umum, dan orang yang berduit umumnya malah memilih Universitas Swasta. Nah sekarang justru terbalik, masuk Universitas Negeri yang katanya milik negara itu menjadi sangat mahal. Ada beberapa pembicaraan diantara para orangtua bahwa mereka sudah mulai berfikir untuk mencari alternative untuk melanjutkan studi di Luar Negeri saja, sebab kalau di hitung hitung sudah lebih menguntungkan dibanding kalau kuliah di negeri sendiri, begitu katanya…

Apa iya??? tentu saja, dengan berlakunya UU Pendidikan yang baru ini membuat pendidikan jauh lebih mahal, dan boleh jadi suatu ketika nanti akses ke pendidikan itu menjadi jauh lebih sulit yang akhirnya menjadi barang mewah yang hanya milik orang tertentu yang berkemampuan cukup, dengan kata lain tidak akan terjangkau lagi oleh masyarakat biasa. Menyedihkan…………………, kuliah aja kok mahal….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: