Hasil UN telah diumumkan beberapa hari yang lalu, dan menurut banyak kalangan tingkat kelulusan tahun 2008 ini mengalami penurunan dibanding tahun 2007. Hal ini diakibatkan beban UN tahun ini meningkat dari 3 bidang studi menjadi 6 bidang studi serta  standar kelulusan dinaikkan dari 4,25 pada tahun 2007 menjadi 5,25 pada tahun 2008, demikian dikatakan salah seorang dari Balitbang DPN.

 

Penurunan hasil UN ini menimbulkan kembali pertanyaan-pertanyaan yang juga pada hekekatnya masih perdebatan dikalangan pendidikan apakah sudah tepat penerapan UN ini. Kita dapat memperkirakan masih terlalu banyak kelemahan kelemahan terdapat disana. Apakah sudah ada pemerataan secara menyeluruh aspek aspek pendidikan di kota dibanding dengan daerah daerah, yang kita tau bahwa di daerang masih tertinggal dalam hal kondisi sekolah, kemampuan guru, fasitas pendidikan yang jauh dari memadai, dan hal lainnya. Seperti kata seseorang yang betul betul mengerti tentang pendidikan mengatakan ‘UN itu ibarat mengejar sesuatu sengan sepeda motor padahal kita baru memiliki sepeda’.

 

Berkaitan dengan hasil UN ini, kita terperangah dan sangat melukai perasaan dengan pernyataan Menteri Pendidikan Nasional baru baru ini (dikutip dari media kompas) yang mengatakan : ‘tidak masalah jika angka ketidaklulusan siswa tahun ini bertambah. Kami tidak merencanakan untuk meningkatkan ketidaklulusan dan kelulusan. Yang paling penting adalah integritas UN dari tahun ke tahun dilaksanakan dengan semakin jujur. Saya selalu katakan UN harus dilaksanakan dengan cara berakhlak dan berbudi pekerti. Angkanya saya tidak terlalu mempermasalahkan, kata Bambang. Menurut Bambang, angka lulus dan tidak lulus bukanlah hal yang penting. Sebab, ujian nasional tak hanya menguji kecerdasan, tetapi juga menguji kejujuran siswa, guru, dan kepala sekolah. ”Kecurangan ujian nasional tahun ini berkurang,” ujarnya’.

 

Loh, ini menyangkut kepentingan orang banyak, bukan sekedar Proyek, bukankah yang merasakan ini semua adalah murid serta orangtua murid dan masyarakat pada umumnya? Apakah negara fungsinya hanya sekedar membuat proyek tanpa memikirkan kepentingan orang banyak?

 

Yaah, kita hanya dapat mengelus dada, anda mau bilang apa?

 

Nah, setelah kekalutan dan keresahan  diatas, selanjutnya apa…..

Pastinya ingin melanjutkan studi ke PTN?

Coba mari kita lihat PTN sekarang ini,

 

PTN masa kini layaknya jalan raya, ada JALUR UMUM dan ada juga JALUR KHUSUS, yang pastinya jalur umum lebih murah dengan jalur khusus. Namun sangat disayangkan, kelihatannya ada unsur akal-akalan disini, dimana persentase jalur umum jauh lebih kecil dari jalur khusus. Sekilas dapat kita artikan orang kaya di Indonesia sudah lebih banyak dari orang miskin, dan kita boleh bangga kalau demikian kondisinya, artinya negara ini sudah makmur. Tapi apakah betul di Indonesia nyata ini demikian adanya?

 

Ach, kembali kita harus mengurut dada…, lantas apa???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: