Setelah 10 tahun

10 tahun yang lalu rakyat Indonesia terutama mahasiswa meneriakkan REFORMASI serta Suharto yang kala itu Presiden RI agar turun dari makhkota kepemimpinan Nasional. Itu berhasil sehingga pada tanggal seperti hari ini tepatnya 21 Mei 1998 Suharto mengundurkan dan serta merta kekuasaan dilimpahkan ke wakilnya.

Hari ini kita melihat kebelakang, berbagai capain sesuai dengan tuntutan reformasi sudah digapai, seperti amendemen UUD, pemilihan langsung dan sebagainya.
Tapi  saya sebagai rakyat biasa mau mengatakan, reformasi tidak mempunyai dampak apa apa dalam kehidupan sehari hari yang pada hakekatnya perobahan yang diimpikan rakyat adalah hal hal yang langsung bersentuhan dengan kehidupannya, seperti kebutuhan sandang dan pangan terpenuhi, kesehatan dan terlebih pendidikan dapat diperoleh.

1. Kebutuhan sandang dan pangan
Kebutuhan ini dapat saya katakan, dari waktu ke waktu semakin sulit dicapai apalagi semenjak BBM naik beberapa tahun yang lalu, membuat kehidupan sehari hari dari kebanyakan semakin sulit. Apalagi belakangan ini pemerintah telah merencanakan akan menaikkan harga BBM lagi. Sangat sulit kita bayangkan, kehidupan seperti apa yang akan kita capai di hari kedepan? Walaupun kebijakan ini di embel embeli dengan BLT, tapi apakah hal yang sama yang sudah dilaksanakan  pada kenaikan yang lalu sudah membuat jalan keluar?

2. Kesehatan
Benarkah akses kesehatan sudah diperoleh masyarakat dengan mudah? ach… rasanya ini masih pertanyaan besar.

3. Pendidikan
Nah ini yang paling kronis. UU mengatakan bahwa anggaran pendidikan harus minimal 20% dari APBN, tapi hal itu belum pernah dicapai. Memang ada program pemerintah untuk membebaskan biaya pendidikan, tapi kenyataan pada pelaksanaanya biaya pendidikan jauh lebih tinggi masa sekarang dibanding dengan masa yang lalu. Saya tidak tahu persis, apakah pihak sekolah yang mensiasati kebijakan pemerintah dengan kebijakan sekolah yang cenderung malah menuju komersialisasi untuk mencari sumber dana. Ambil contoh pada sekolah menengah pertama  negeri, misalnya penerimaan siswa tahun pertama dibuka 6 kelas dan serta merta kelas kelas ini dibuat dengan beberapa kategori, seperti:
a. kelas reguler
b. kelas khusus
c. kelas standar International

Sekilas program ini kelihatannya sangat menarik, sebab masyarakat dapat memilih sesuai dengan kemampuannya. Namun kalau kita bicara soal biaya, saya beranggapan bahwa ada unsur yang abu-abu disana. Kelas reguler yang terdiri dari 2 atau 3 kelas (atau sekitar 105 murid) dari kapasitas yang ada, artinya kelas ini memang sesuai dengan kebijakan pemerintah yang gratis atau relatif lebih murah, tapi jangan ditanya biaya pada kelas khusus dan international pasti jauh lebih mahal dan cenderung komersial, sementara seberapa banyak rakyat yang mampu masuk ke kelas yang khusus itu.

Hal yang sama berlaku juga di tingkat lanjutan atas, dan terlebih pabila hendak melanjutkan pendidikannya ke tingkat universitas, entah bagaimana lagi, uzubillah kata orang.

Itulah, sedikit kilasan sejak 10 tahun yang lalu sampai kini, lalu pertanyaan timbul, apa yang kita peroleh, kemudian …… harus bagaimana selanjutnya.

Airmata dan kepedihan, tak henti henti
Doa sujud
Ya… hanya doa yang dapat kita panjatkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: