Archive for October, 2007

Sepak bola wanita

Sungguh….,  jarang malah hampir tidak ada pertandingan sepakbola wanita di negeri ini, padahal tidak kalah hebat dan serunya kalau mereka bermain bola, cara menggiring dan gayanya bukan main, apalagi kalau sudah memasukkan gol ke gawang lawannya, uich.., hampir sama dengan yang di Liga Premier itu.

Nah, itu dia yang saya (anda juga?) tonton dan nikmati dalam Piala Dunia Wanita FIFA  yang diselenggarakan di daratan Cina pada 10 – 30 September 2007 lalu. Begitu hebatnya Kesebelasan Jerman yang berhasil manaklukkan Brasil dengan skor 2-0 di final, sehingga mereka menjadi kesebelasan pertama di dunia saat ini yang dapat mempertahankan mahkota Juara Dunia, setelah pada kejuaraan yang sama beberapa tahun lalu di Amerika Serikat berhasil menggondol Juara Dunia dengan mengalahkan Swedia di Final  dengan Skor 2-1.

Yang lebih spektakuler lagi, kesebelasan Jermanlah satu satunya pada kompetisi ini yang tidak pernah kemasukan GOL, yang ditongkrongin oleh Nadine Angerer kelahiran Lohr am Main (Jerman) pada tanggal 10 November 1978.

Bukan main, hebaaat……

Nah, tulisan ini bermaksud untuk menggugah para Kartini Indonesia untuk mencoba menggairahkan kembali Sepak Bola Wanita dimana dulu sudah pernah berkibar seperti Buana Putri misalnya. Siapa tau dengan kebangkitan ini kita dapat berkompetisi dan bersaing dengan kesebelasan Eropa dan Amerika yang sudah duluan  maju (habis……., kita orang udah pesimis sama yang namanya kesebelasan nasional, nga’ beken, segitu gitu aja dari dulu, eh… kecuali yang sekalinya ntuu).

Mauu??????

Cerita anak anak (3)

 

Postingan ke-3 tentang cerita anak saya, 
ditulis    : tgl. 20 May 2005
Judul    : Keadaan yang Kritis
Di rumah sakit Celvinatya di periksa oleh dokter dan kata dokter Celvinatya kena penyakit tipus yang parah. Teman temannya terkejut. Di pagi hari Minggu setelah Celvinatya sadar, teman teman Celvinatya berdatangan untuk menjenguknya. Martin berkata “Cepat sembuh, ya…” Ami juga menyampaikan pesan pada Celvinatya “kalau sembuh masuk sekolah lagi,!”, lalu teman teman pun pulang.
Keesokannya, (more…)

Kebanggan dan harga diri

Sabtu tanggal 6 Oktober 2007 yang lalu saya menghadiri pesta perkawinan anak sahabat di suatu gedung pertemuan. Seperti biasanya di acara perkawinan orang batak, prosesinya  sangat panjang, dan sekedar mengisi waktu luang, kamipun membicarakan berbagai topik-topik, seperti ekonomi, politik, lingkungan, budaya dan macam-macam.

Salah satu topik yang kami bahas adalah tentang kebanggan dan harga diri orang Batak ‘pabila hendak melaksanakan hajatan perkawinan. Terutama mengenai tempat pelaksanaan haruslah di suatu gedung pertemuan (khusus orang Batak), dan apabila semakin mahal, semakin mantaplah kebanggan itu. Sementara sewa gedung pertemuan semacam ini bernilai puluhan juta up. Yang paling mengesankan lagi adalah sulitnya memperoleh kesempatan menyewa gedung pertemuan saking padatnya orang batak ber-hajatan di kota ini. Bayangkan, kalau kita mau melaksanakan hajatan, harus melakukan pemesanan jauh jauh hari, seperti yang dialami oleh teman ngobrol saya ini, bahwa dia telah memesan gedung pada bulan September 2007 yang lalu dengan hasil mendapat jadwal pada bulan April 2008. Busyeeet ………. segitu banyakkah  orang Batak ber-hajatan di kota ini? Padahal, gedung pertemuan semacam ini di Jabodetabok sungguh banyak jumlahnya.

Catatan:
Umumnya pelaksanaan hajatan dilakukan pada hari Sabtu, Minggu dan hari liburan lainnya, dan akhir-akhir ini kadangkala hari Jumat pun sudah ada sebab sulit mencari jadwal seperti yang saya sebutkan tadi.

Sekedar tahu saja, berapa uang beredar dalam satu tahun hanya untuk hajatan semacam ini, dengan asumsi (minimum) di bawah ini,

  • Pelaksanaan hajatan 10 kali dalam sebulan (Sabtu + Minggu dan hari libur lainnya), artinya 120 kali setahun per gedung.
  • Sewa gedung + Catering = Rp.31.000.000
  • Biaya persiapan hajatan sebanyak 25% dari sewa gedung
maka jumlahnya menjadi:
Biaya sewa: 120 x 31.000.000 : 3.720.000.000
Biaya persiapan 25%                 :    930.000.000
Total                                             : 4.650.000.000

Itu hanya peredaran uang untuk satu gedung, sementara ada banyak gedung pertemuan di kota ini. Sungguh angka yang fantastis untuk sebuah kebanggan dan harga diri, walau sebenarnya bukan selalu uang ukurannya.

Sedikitkah itu???, aaah ….pemborosan saya kira, seharusnya lebih bermanfaat bila digunakan untuk hal-hal yang lebih produktip, sementara masih banyak desa tertinggal dan miskin di kampung sana.

Cerita anak-anak (2)

Postingan ke-2 tentang cerita anak saya, 
ditulis :tgl. 15 May 2005
Judul: Anak Pindahan Sekolah
Celvinatya melihat anak baru di kantor sekolah, namanya Ami dan dia anak baik. Celvinatya sering mengajari Ami, karena dia sering bertanya padanya tentang hal hal yang tak di mengerti. Ami bilang “aku ingin menjadi temanmu”, katanya kepada Celvinatya. Celvinatya menerimanya, lalu Celvi mengatakan bahwa dia akan menjemput Ami setiap pagi mau sekolah. Di tengah perjalanan pulang, Celvi bertemu Martin dan  menghampirinya. Martin bilang “besok aku bermain pertandingan sepakbola, nonton, ya?” Okey, aku akan menonton, jawabnya.
Esok paginya (more…)

Cerita anak-anak (1)

Prakata:
Cerita ini adalah hasil tulisan dari anak saya yang kedua, sekarang duduk di kelas 6 Sekolah Dasar. Sejak kelas 4 SD, dia sudah sangat suka membuat tulisan sambil belajar komputer. Saya merasa bersalah karena tidak pernah membantu dia untuk mengirimkannya ke majalah anak-anak misalnya (untuk memotivasi). Nah untuk menebus kesalahan itu, saya akan memposting beberapa tulisan tersebut, dengan harapan  agar dia dapat terpacu untuk menulis.
Catatan :
Nama dan peristiwa yang ada disini hanyalah imajinasi dia dan bukan yang sebenarnya, dan cerita pertama yang akan saya posting adalah:
Judul : Celvinatya and Martin
ditulis :tgl.11 May 2005 (more…)

Jorr Cikunir

Anda tau? Sejak dibukanya JORR (Jakarta outer ring road) di Cikunir-Bekasi, dengan segala kontoversi taripnya tentu, jarak tempuh dari Bekasi ke Cibubur tidak lebih dari 30 menit, yang tadinya berkisar 1 jam (lewat UKI yang macet). Hal ini sangat menguntungkan, karena biasanya selalu terlambat masuk kantor akibat nyangkut di UKI.

Namun belakangan ini harus lebih waspada melalui JORR ini, karena kecepatan kendaraan disini sangat tinggi (mungkin 120up km/perjam), dan yang lebih menghawatirkan adalah kendaraan dengan kecepatan tinggi dan zig-zag, uuuuh.. mengerikan. Memang kadang-kadang para pengendara yang lain kurang tertib juga, udah kecepatan rendah tapi selalu mengambil jalur sebelah kanan, yah terjadilah per-zigzag-an. Nah, untuk menhindari yang tidak diinginkan, harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

  1. Yang berkecepatan tinggi, ambillah jalur kanan dan jangan coba-coba zig-zag
  2. Yang kecepatannya sedang sedang, ambil jalur sebelah kiri, jangan di kanan terus.
  3. Bagi angkutan yang berat-berat, tempat anda di jalur kiri.

Atau anda celaka!!!

We need motivator

I got this advice from my ex-boss (expatriate), when I am worries in re-new of management of our organization. I’ve got more spirit when he say “All the people I know who have worked with you regard you highly, and I have never heard of any negative comments about you. I was especially happy to hear a “pro- you”  comment from some one in Hong Kong who you might already know has CPA qualifications and is a key person in our group. And I understand you to be a no-nonsense person; a make-sense person”.

Furthermore he says;  You mentioned about the new management, and referred to a new expatriate boss with whom you seem to have difficulties. But professional-bosses usually can appreciate the depth of the history of things; in this case I am talking about HOW and WHY you have been at this company up to now, for so long. So, even if there are scenes of misunderstandings or embarrassing situations with the new boss, that’s that, and you don’t need to react emotionally to every such (bad) situation. The important thing is that you are clear and have your own stand on things. Maybe the new boss is “only testing you”, to see what you will say if he said “A” or “B”. You should say what you have always said (in your right and professional mind), and not say what you think will PLEASE the boss. I imagine you saying to new boss: “I am reporting to you what you NEED to know, not what you would LIKE to know”.

And of course, changes in organization (especially at the top) is usually followed by a re-doing of the modus operandi (the way things are done), which CAN be stressful and frustrating. This may sound un-kind for you, but perhaps you have forgotten this point. If you can remind yourself that THIS situation is challenging NOT ONLY to you, but ALSO to the boss, you can start building the mutual relationship instead of moving away from each other (yes, this is also like boyfriend-girlfriend or husband-wife relationship!). It might also help that you realize that YOU have ONLY the new boss to become familiar with, but new boss has MANY people to become familiar with, not to mention the new country, new culture, new environment, etc. etc.

What you should be careful is not to be “wet” about your feelings (i.e., expressing your grievances, complaints, gossip-talk) but to say objectively what is happening, and ALSO add your own thinking and solutions. Just pointing out the problems is not good enough. Identification of problems WITH proposed solutions is the package that needs to be presented.

This advice I got more than one year ago, to motivate and make me strong and convince to working until present,

Finally, I say thanks to you, now I can laugh.

(this article to be posted also in my other blog)