Archive for September 20, 2007

di Negeri manakah kita ini?

Risau campur geram  juga mendengar berita hari-hari ini, saking gemasnya penulis ingin menumpahkan segalanya di tulisan ini, namun sayang jari ini serasa kaku untuk menuliskannya.Ok, kita mulai  dengan MA yang kenaikan gaji/tunjangannya yang wah. Terlalu, kalau buruh minta naik uemernya, itu tuh  si pengusaha pasti langsung kebakaran jenggot, tidak produktip, high economic cost, dll, begitu kata mereka; dukungan pemerintah?, boleh ditanya kepada para buruh, yang jelas UU no 13 aja masih dikutak-kutik terus.

Yang satu ini kelihatannya mulus sekali, tau tau breet….. naik 300 persen titik, pemerintah setujuuu. Padahal, badan publik ini paling disorot peranannya atau prestasinya. Penulis tak perlu membuat judgment atas prestasi yang dicapai mereka, tapi bisa kita lihat atau baca di media-media maupun sumber informasi lainnya. Apa prestasi mereka? hebatkah? manfaat apa yang dirasakan rakyat dari Mahkamah yang Agung ini?  terlalu banyak pertanyaan yang tidak terjawab. Koq bisa-bisanya, sementara rakyat lagi susah dengan kenaikan harga bahan-bahan yang melangit, minyak tanah menghilang (ada kompor gas sih sebenarnya, tapi……………), dan terlebih lagi pada saat ini  saudara-saudara kita disana kena bencana.

Ahhh……, di Negeri manakah kita ini.

Itu mengenai MA, dagelan berikutnya muncul dengan aktor pak katua PSSI, yang baru-baru ini dipilih oleh partainya menjadi anggota DPR RI (pengganti antar waktu katanya), tapi sontak mendadak menjadi terpidana dalam kasus korupsi minyak goreng,  dan menghilang pula beliau ini (berita terakhir udah di bui rupanya).  Sekedar review, dulu bapak ini divonis bersalah dan masuk penjara, tapi aneh jabatannya sebagai ketua PSSI tidak dicopot, dan lebih aneh lagi, pada pemilihan Ketua PSSI yang baru lalu terpilih lagi sebagai ketua. What’s going on there?? Apa nggak ada lagi yang bisa jadi pemimpin di negeri ini?

Nah…. yang paling heboh adalah akhirnya ada “anak negeri” ini menjadi nomor satu di jagad raya  (versi Bank Dunia or PBB?). Bukan main, cuman sayangya perlombaan ini tidak bisa di ikuti oleh rakyat kecil (ngapain juga ikut yang gituan), ini adalah kompetisisi tingkat tinggi, dan biasanya untuk konsumsi para politikus(?). Lalu pemimpin kita bilang akan mengecek dan memastikan berita ini, padahal  berita ini sebenarnya sudah usang, masalahnya kita tidak pernah mampu melaksanakan “law enforcement” yang dilandasi kebenaran dan kejujuran, itu saja.

62 tahun sudah merdeka, ada orde lama, ada orde baru, dan terakhir orde reformasi (nanti orde apa lagi), kita hanya mampu menciptakan orde-orde tapi tidak mampu mencapai cita-cita kemerdekaan, salah dimana? aah… tanya saja rumput yang bergoyang.